Tampilkan postingan dengan label mountain training. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mountain training. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Mei 2020



Perkenalkan, saya Qori atau teman-teman sekitar saya biasa memanggil saya dengan sapaan akrab Qoqoy. Sudah 4 tahun belakangan ini sejak saya masuk kuliah saya mulai jatuh cinta dengan alam bebas dimana saya bisa mengeluh sekaligus bersyukur. Entah bagaimana bisa begitu padahal dulu saya malas sekali mengikuti kegiatan outing di sekolah, olahraga pun jarang, di kampus juga saya tidak mendaftarkan diri sebagai anggota MAPALA. Tapi menurut saya, alam bebas selalu memberikan rasa rindu walaupun kami belum pernah “bertemu” sebelumnya.  Disisi lain, kegiatan ngalam menurut saya merupakan wujud apresiasi untuk diri saya sendiri yang sudah mau diajak lelah setiap harinya.
-7 Maret 2019-
            Pagi itu isi chat diponsel saya ramai dengan pertanyaan sejenis, begini bunyinya “Qoy, jadi kan hari ini ke Bandung?”.
Tugas-tugas mahasiswa semester akhir cukup membuat saya penat. Ingin rasanya istirahat sejenak untuk menyegarkan kembali jiwa pun raga. Saya mengajak 12 orang kawan saya untuk meliburkan diri sebentar dari ruwetnya tugas-tugas kuliah. Saat itu Artapela jadi tujuan kami. Selain karena Bandung terbilang dekat dari kota asal kami di Bogor, disana juga terdapat rumah kerabat kami yang bisa kami kunjungi. Lumayan untuk mengurangi biaya akomodasi penginapan nanti hehe. Memang dasar Bogor Kota Hujan, cuaca rupanya tidak merelakan kami untuk meninggal kota ini. Hujan mengguyur sejak pagi hingga malam tiba. Persiapan kami sudah matang sehari sebelumnya yang membuat kami tidak mungkin membatalkan perjalanan. Seperti biasa, rumah saya selalu jadi tempat berkumpul sebelum kami berpergian. Oh iya, saya adalah satu-satunya perempuan dalam perjalanan ini tapi tidak apa-apa saya sudah biasa menjadi satu-satunya perempuan diantara mereka dan saya merasa aman berada ditengah-tengahnya. Saya memang agak tomboy, teman-teman saya sering mengejek saya “jiga lalaki ditiungan” katanya hehe. Hujan agak mengecil, kami memutuskan untuk berpamitan pada kedua orangtua saya yang bagi teman-teman saya juga adalah orangtua mereka. 6 motor dengan masing-masing menunggang 2 orang diatasnya saat itu mulai menancapkan gasnya. Sayang sekali kala itu hujan terus mengguyur kami hingga sesampainya di Bandung. Kuyup, dingin, lepek, lapar menjadi satu. Tibalah kami di rumah kerabat kami di Bandung Barat lalu bermalam.
8 Maret 2019
Harum semerbak nasi uduk di warung sebelah tercium hingga membuat kami bangun. Seusai mandi dan sarapan kami berangkat menuju Artapela Bandung Selatan. Jumlah anggota yang tadinya 12 (Saya, Aufal, Rian, Hasbi, Dimas, Rafjan, Ido, Zulla, Agil, Alvin, Ari, Dhani) berubah menjadi 14 orang setelah kedua kerabat kami (Akbar dan Deni) di Bandung memutuskan untuk ikut serta. Sepanjang perjalanan saya melihat banyak sekali Bobotoh berjalan menuju stadion. Saya jadi bernostalgia saat 2015 lalu saya pernah menjadi salah satu supporter Persib yang bersorak sorai di SJH. Seru sekali rasanya. Ditengah perjalanan kami berhenti untuk membeli perbekalan guna memenuhi amunisi selama di Artapela sana. Tak terasa rupanya arahan dari Google Maps telah mengantarkan kami pada tempat tujuan. Tapi tunggu, seperti ada yg janggal.
Saat memasuki wilayahnya, kami menemukan pipa-pipa besar menandakan seperti ada sebuah pabrik disana. Perjalanan berhenti pada salah satu gerbang besar yang kami bingung apa didalamnya. Tidak tahu mau bertanya pada siapa karena kami tak mendapati keberadaan warga sekitar. Warung yang kami curigai sebagai tempat pengelola Artapela pun nampaknya tak bertuan. Sinyal hilang, kami betul-betul dibuat bingung. Dari kejauhan kami melihat ada motor mendekat dengan dua orang pemuda membawa arit. Dua pemuda itu rupanya petani kebun sekitar. Mereka bertanya apa dan kemana tujuan kami lalu kami jelaskan dengan terbata-bata, maklum kemampuan berbahasa sunda halus kami dibawah rata-rata. Dua pemuda itu memberitahu bahwa kami salah pintu masuk karena ternyata pintu masuk ini sudah ditutup. Benar saja! Namun begitu, dua pemuda ini menawarkan solusi untuk dapat tetap masuk lewat jalur ini dan menitipkan kendaraan kami pada mereka. Deal! Kami sepakat dengan tawaran itu. Saya berjalan paling depan mengikuti salah satu pemuda tadi yang menunjukan jalur lalu dibuntuti oleh beberapa teman saya dibelakang. Pemuda itu hanya mengantar kami sampai perkebunan warga. “Dari sini ikutin jalur aja ya” tuturnya. Tanah yang gembur membuat saya kesulitan berjalan dibeberapa menit pertama. Seringnya kami dibuat terpukau setiap kali berhenti untuk istirahat sambil memandangi pemandangan sekitar.
Lembayung senja membuat kami tidak menyadari bahwa waktu maghrib sudah sangat dekat. Saat itu posisi kami ada pada hamparan kebun kentang dan wortel yang luas. Jarang kami dapati pohon rindang untuk berlindung sementara sehingga angin Artapela terasa menusuk tubuh ini. Kami tidak mendapati lahan berkemah sama sekali hingga pada akhirnya kami mendengar ”Woi! Disini!” diikuti lambaian tangan diujung sana. Alhamdulillah, akhirnya ada petunjuk adanya kehidupan. Kami berjalan menghampiri sekelompok orang yang terus memberikan “sinyal” sembari kami jalan menghampiri. Layaknya kebanyakan orang di gunung, sesampainya di camp area kami saling bertegur sapa, bersalaman dengan pengunjung lain, basa-basi agar suasana menjadi hangat. Ternyata mereka juga senang sekali dengan kedatangan kami karena disana hanya ada satu tenda milik mereka saja saat itu. Kawan-kawan baru kami ini agak heran“kok muncul dari sana bang?” tanyanya pada salah satu teman saya. Ya, memang sejak awal tadi kita sudah salah pintu masuk. Sayang sekali malam itu tidak satupun dari kami yang ingat untuk membawa senter atau headlamp, basa-basi kami dengan penghuni tenda sebelah berbuah baik, mereka menawarkan bantuan penerangan saat kami memasang tenda-tenda untuk berlindung dari dinginnya angin malam. Ada satu momen yang saya ingat sampai sekarang dimana saat hendak menyantap makan malam, rupanya ada yang lebih dulu memantau santapan kami. Anjing-anjing perkebunan sekitar yang jumlahnya dua atau tiga saya tidak ingat, menghampiri tenda dengan tujuan mengambil jatah makan kami. Teman-teman saya sadar betul diantara kami ber-empat belas hanya saya satu-satunya tidak takut anjing, alhasil mereka suruh saya mengusir anjing-anjing itu sementara mereka makan mie kemasan sambil thowaf mengelilingi tenda dengan mata waspada memastikan gerak-gerik anjing-anjing itu tidak kembali ke tenda kami hihihi bila ingat kejadian itu saya agak geli membayangkan wajah-wajah culun teman-teman saya :D
9 Maret 2019
            Embun pagi terasa membasahi tenda. Mentari pagi malu-malu menunjukkan pesonanya. Saya keluar tenda membangunkan teman-teman di tenda lain. “Udah pagi woi, bangun! Siapa mau kopi?” ucapku sembari menyiapkan kompor juga nesting. Maasya Allah, pagi itu benar-benar pagi yang indah di Artapela. Gundukan bukit-bukit terlihat indah. Seperti melihat bukit pada kartun favorit saya semasa kecil dulu, Teletubies. Saya memilih menghabiskan sekotak susu dan roti dibalik bukit dan tidak lama kemudian teman-teman saya menyusul membawa segelas kopi digenggamannya. Pemandangan pagi dibalik bukit membuat saya banyak bersyukur bisa menikmati ciptaan-Nya yang begitu sempurna. Matahari lambat laun meninggi. Sekitar jam 10 tim polda (polisi dapur) yang beranggotakan saya dan Rian mulai sibuk memasak untuk kami makan siang sebelum perjalanan turun. Minimnya persediaan air memaksa saya untuk masak ala cowboy alias sayur mayurnya hanya dibersihkan tanpa dicuci hihi. Masakan matang, teman-teman saya menyantap dengan nafsu dengan memuji hasil masakan saya dan Rian yang menurut mereka enak sekali. Saya dan Rian saling memandang menahan tawa, mereka tidak tahu saja masakan itu agak “jorok” prosesnya :D
            Selesai berkemas kami kembali ke balik bukit untuk mengabadikan gambar dilatar belakangi pemandangan Artapela yang luar biasa indah. Waktu “istirahat” kami sudah habis disini. Sebelum pulang ke kota asal, saya meminta teman-teman menemani saya keliling kota Bandung sebentar untuk mengobati rasa kangen ini.Sudah saatnya kami kembali dengan tugas kami sebagai mahasiswa akhir. Setidaknya pikiran kami sudah kembali segar dan kami kembali kuliah dengan aura positif Artapela yang mungkin sampai saat ini meninggalkan bekas. Waktu berlalu, saya dan teman-teman satu persatu meninggalkan bangku perkuliahan dengan profesi yang berbeda-beda sekarang. Ingin rasanya kembali berkumpul untuk kembali rehat sejenak bersama.

14 Mei 2020,
Qori Pertiwi.

Berdiri kanan - kiri : Rafjan, Rian, Akbar, Zulla, Ido, Alvin, Agil, Dhani, Ari
Jongkok kanan - kiri : Deni, Hasbi, Qori, Dimas
Jongkok kanan - kiri : Deni, Hasbi, Aufal, Dimas
 
     
Dari: Qori Pertiwi <qoripertiwi01@gmail.com>
Date: Jum, 15 Mei 2020 00.08
Subject: Instagram account @qoripertiwi

Rabu, 13 Mei 2020



Sebelum kita berkegiatan di alam terbuka ; baik sekedar rekreasi, mendaki gunung, berkemah (camping), memasuki kawasan lindung atau sekedar jalan-jalan alangkah lebih baik untuk mempelajari dahulu aturan, tips atau pedoman tentang bagaimana untuk meminimalkan dampak / pengaruh rekreasi dan atau kegiatan di lokasi yang akan kita kunjungi / masuki.
a.       Rencanakan dan Persiapkan
-          Rencanakan dengan matang perjalanan yang akan kita lakukan
-          Ketahui terlebih dahulu aturan dan peringatan khusus lokasi / objek yang akan kita kunjungi
-          Kunjungi lokasi / objek dalam jumlah kecil
-          Jauhi kunjungan ke lokasi / objek yang kita sukai saat / selama kunjungan penuh (ex. Saat liburan, dll)
-          Hindari kegiatan yang dapat mengancam populasi hewan dan tumbuhan atau yang berpotensi merusak alam dan lingkungan
-          Rencanakan, tumbuhkan dan praktekan rasa tanggung jawab kita dalam menjaga dan memelihara kelestarian alam dan limgkungan
-          Pilih / pakai pakaian
b.      Berkemah dan Berjalan Pada Permukaan yang Kokoh
1)      Diperjalanan
-          Tetap pada jalur dan jalan beriringan
-          Jangan membuat jalan pintas
-          Pilih jalan / rute yang sedikit mungkin tidak menginjak vegetasi
-          Saat melakukan perjalanan “cross country” pilih permukaan jalan yang ada dan paling kokoh, seperti batu, kerikil (koral), dan rumput kering
-          Gunakan peta, kompas atau GPS untuk menghindarkan / tidak membuat patok / tanda dari batu, mematahkan dahan pohon, memotong batang pohon atau memasang pita/tali raffia/tali pengenal (string line).
-          Tetap pada jalur saat berjalan turun bukit dan bicara ketika berpapasan / berjumpa dengan orang lain.
2)      Diperkemahan
-          Pilih lokasi / tempat yang sudah ada atau tempat yang telah ditentukan yang tidak akan rusak akibat kedatangan kita.
-          Hindari berkemah dalam kelompok yang besar di daerah yang sempit.
-          Pelihara kelompok dalam jumlah kecil, idealnya kurang dari 6 orang dan tidak lebih dari 12 orang.
-          Cari tempat / lokasi kemah (camping) yang baik dan telah tersedia, jangan membuat lokasi yang baru. Jika tidak perlu jangan merubah tempat berkemah (camping).
-          Membatasi kegiatan di lokasi dimana vegetasinya padat.
-          Gunakanlah tenda yang tidak perlu menggali lubang dan tidak diperkenankan menggali lubang di sekeliling tenda anda.
-          Pelihara kebersihan kemah, simpan makanan di atas pohon.
-          Periksa dan bersihkan lokasi kemah (camping) atau tempat bermain anda dari semua sampah.
-          Berkemah sejauh mungkin dari jalur satwa dan jangan memberi makanan untuk satwa liar.
-          Manfaatkan sedapat mungkin pohon-pohon yang ditebang oleh alam, seperti pohon-pohon yang dirobohkan oleh angina atau oleh sebab-sebab alam lainnya.
-          Tidak menebang pohon kayu untuk keperluan yang tidak jelas.
-          Hemat penggunaan kayu bakar dan sedapat mungkin membuat api unggun hanya dengan ranting kayu saja.
-          Coba swadaya penggunaan energi dan jangan menghabiskan sumber daya alam.
-          Membiasakan diri untuk selalu memastikan bekas api unggun agar benar-benar padam.
-          Tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama yang masih menyala.
-          Membersihkan / tidak meninggalkan bahan yang tidak dapat / tidak mudah hancur oleh alam sendiri.
-          Tidak mengotori sungai yang merupakan sumber air bagi rakyat dan binatang dalam hutan.
-          Untuk mandi atau mencuci, bawa air sejauh 20 meter dari sumber air dan gunakan sabun / deterjen yang dapat diurai.
-          Jauhi sumber pencemaran (polutan), bahan pencemar dari sumber dengan cara berkemah (camping) 200 meter dari mata air, danau, sungai dan kumbangan air.
c.       Masukkan Kembali Apa yang Telah Dikeluarkan
-          Masukkan apa yang telah anda bawa ke lokasi / objek wisata, seprti sampah dan bahan-bahan lainnya yang kita bawa ke lokasi.
-          Masukkan sampah anda dan yang lain sebelum anda meninggalkan tempat tersebut dan alamikan kembali tempat / lokasinya.
-          Kemasi, bawa dan bersihkan semua makanan yang tumpah.
-          Bungkus kembali makanan bekas (sisa) dan buang ketempat sampah yang tersedia didalam kawasan atau di luar kawasan (jika tidak ada).
-          Lindungi satwa liar dan makanan anda dengan cara menyimpannya di tempat aman.
d.      Sebaiknya Atur Apa yang Tidak Dapat Anda Bawa / Masukkan
-          Jika buang air besar, buat lubang sebesar 6-8 inci dengan jarak lebih dari 200 meter dari sumber air, sungai, danau, jalan setapak dan tenda. Setelah selesai selanjutnya kubur dengan tanah dan tutup dengan bahan-bahan alami (dialamikan).
-          Untuk membersihkannya gunakan tissue gulung atau bilas dengan air.
e.       Tinggalkan Apa Yang Anda Temukan di Alam
-          Perlakukan adapt kita dan warisan alam dengan cara menghormatinya.
-          Tidak memburu satwa/tanaman yang dilindungi dan lambat populasinya.
-          Jangan mengambil hewan, bunga, pohon, kerang, karang, fosil, batu, telur atau benda-benda lain tanpa ijin. Ambilah gambar sebagai kenang-kenangan.
-          Biarkan suara alam yang terdengar, jangan bicara keras atau membuat kegaduhan.
-          Bicara halus, sadar akan pengaruh anda terhadap yang lain, fikirkan mengenai gangguan suara.
-          Memasukkan hewan / tanaman asing apakah itu sengaja maupun tidak ke lokasi, dapat membahayakan keseimbangan ekologis daerah tersebut.
-          Jangan membangun struktur, peralatan atau menggali tanah.
f.       Kurangi Penggunaan Api dan Pengaruhnya
-          Api unggun dapat menyebabkan dampak dalam jangka panjang pada objek/kawasan, khususnya jika lingkaran api dari batu tidak dihilangkan. Juga hati-hati terhadap bara api yang keluar dari lingkaran api dan mengenai vegetasi yang dapat menyebabkan kebakaran.
-          Selalu bawa peralatan masak yang ringan dan ringkas serta aman.
-          Jika api ungun diijinkan, gunakan lingkaran api yang telah ada dan hindari pembuatan lingkaran api baru.
-          Jika anda terpaksa membuat lingkaran api baru, sebelum anda meninggalkan tempat tersebut alamikan kembali lingkaran api tersebut agar tidak dipakai oleh orang lain dan menghindari bertambahnya titik lingkaran api.
-          Padamkan api unggun secepatnya.
-          Pindahkan dan kemasi semua kayu baker sisa dari lingkaran api dan padamkan dengan air, pasir atau debu menutupi selebar lingkaran api.
-          Gunakan lampu dari lilin sebagai alternative agar tidak membuat api unggun.

2.      Pedoman - Pedoman Kesadaran Lingkungan Bagi Para Pengamat Satwa Liar Dan Fotografer
-          Pelajari perilaku satwa liar dan jangan buru-buru ingin mendekati.
-          Amati satwa liar dari jarak yang aman, tetap pada jarak tersebut. Semua satwa liar memiliki jarak untuk melarikan diri, yaitu mereka akan membiarkan anda mendekat sampai jarak tertentu sebelum mereka melarikan diri. Pengamat sebaiknya tidak melebihi jarak tersebut.
-          Gunakan lensa tele. Semakin baik apabila menggunakan tele yang panjang.
-          Hindari penggunaan blitz terhadap sebagian besar mamalia.
-          Jangan mengumpan satwa liar dengan makanan.
-          Dekati satwa secara perlahan dan tidak rebut. Hindari pergerakan yang tiba-tiba. Jangan lupa untuk kembali melalui jalur yang sama.
-          Pada umumnya satwa liar yang merasa terganggu aktivitasnya, seperti makan, akan mulai melihat kea rah kita dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang atau kabur.
-          Kadang-kadang kita mungkin harus merangkak di tanah atau berjalan sambil menekuk lutut.
-          Sebelum kita berbuat sesuatu, pelajari konsekuensinya apabila terlalu dekat. Jika kita terlalu dekat, ingat bahwa anda bisa bertanggung jawab atas hilangnya atau matinya satwa muda.
-          Gangguan dapat menyebabkan satwa liar memaksa untuk mengeluarkan energi yang berlebihan.
-          Jangan menakut-nakuti burung-burung atau satwa lainnya yang bersarang dan menyentuhnya.
-          Jika sarang burung terkena cahaya atau tersiram, maka anak burung maupun telur-telur yang ada bisa mati karena kepanasan atau kedinginan, predator akan memakan anak burung dan telur tersebut, sehingga sarang bisa ditinggalkan begitu saja.
-          Tetap pada batas sekumpulan satwa liar, jangan mengelilingi suatu kelompok.
-          Jangan pernah berada diantara induk satwa dengan anak-anaknya.
-          Jangan menyendiri dari kelompok anda. Jangan memotong jalur-jalur satwa tersebut.
-          Jangan coba-coba menyentuh satwa liar.
-          Jangan memberi makanan satwa liar, terlebih memberi makan dengan tangan langsung.
-          Pada umumnya akan berbahaya untuk menakut-nakuti, mengejar, mengganggu, menangkap atau mencoba untuk menjual satwa liar atau hasil-hasil sampingan dari organisme hidup manapun.
-          Jangan mendorong perdagangan gelap dengan cara membeli produk-produk yang dibuat dari spesies-spesies yang terancam.
-          Pelajari aturan-aturan yang membolehkan perdagangan dan penjualan spesies tumbuhan maupun satwa liar.


Sumber : Manajemen Pendakian Gunung Indonesia
Banyak yang mencari sejarah tentang mendaki gunung, bahkan mungkin kita baru mengenal mendaki gunung atau telah terbiasa berkunjung ke ketinggian. Mencari sejarah pendakian gunung, saya menemukan pendakian gunung ini telah sejak lampau dilakukan bahkan dilakukan pada zaman pra-sejarah. Bukti nyata bisa temukan dalam sejarah Islam, ketika Siti Hajar mencari air untuk putranya Nabi Ismail. Beliau melakukan pendakian ke bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali bolak-balik secara tiktok dan marathon 2 bukit.
Sejarah lain tercatatkan ketika Nabi Musa mendapatkan wahyu berdiam diri di Gunung Tursina selama 40 hari, selain Nabi Muhammad pergi untuk bertahanus melihat keadaan masyarakat Qurais pergi keatas bukit dan berdiam diri di  Gua Hiro. Dengan demikian saya berasumsi bahwa pendakian gunung dahulunya adalah perjalanan suci untuk mendapatkan ilham dan wahyu. Pada zaman sekarangpun, tidak sedikit orang mendapatkan inspirasi setelah mendaki gunung.
Dalam berbagai cerita dan mencari di website awalnya aktivitas mendaki gunung merupakan kegiatan petualangan dan penjelajahan dilakukan oleh bangsa Yunani, Mesir, Funisia, Afrika dan Romawi, juga China. Penjelajahan samudra luas, ke Dunia baru, dipelopori oleh bangsa Eropa, yakni Portugis dan Spanyol, disusul Inggris kemudian Belanda. Penjelajahan itu dilakukan sejak beberapa abad yang lalu. Petualang adalah para pemberani yang sangat menghargai kehidupan “1.Banyak di antara para pembaharu dan penemu lahir dari kalangan para petualang. Sejarah mencatat riwayat para petualang yang tabah, berani, dan ‘nekad’, yang berhasil membawa perubahan dan manfaat bagi kehidupan manusia lain.
Sejarah juga mencatat bangsa yang unggul adalah bangsa yang memiliki keberanian untuk melakukan penjelajahan dan petualangan. Tradisi ini pernah marak di Inggris, misalnya, Royal Geographical Society yang bekerjasama dengan The Institute of British Geographer. Organisasi ini memiliki Pusat Penasehat Ekspedisi atau Expedition Advisory Centre. Ada juga organisassi non-pemerintah, seperti The Scientific  Exploration Society, The Explorers Club (Inggris dan Amerika Serikat). Pernah ada program Operation Raleigh dan Operation Drake, suatu proyek yang dibiayai sponsor dan Negara, yang melepas para remaja untuk mengembara ke bagian dunia asing. Ada National Geographic Society dan Institute of Underwater Archaelogy di Amerika Serikat. Sehingga bisa dikatakan, bahwa bangsa yang sekarang di katakan besar sejak dahulu telah mengenal mendaki gunung sebagai penjelajah. Artinya para penjelajah akan menjadi pahlawan bagi masa depan bangsa, bukan hanya orang yang berdiam diri di kamar mengkhayal hal yang tidak seharusnya di khayal. Ayo kawan berpetualang, Indonesia itu indah banyak gunung dan potensi alam yang akan menjadi guru bagi kita. 
Pendakian gunung di Indonesia ratusan tahun yang lalu pernah di lakukan oleh orang Indonesia, temuan puncak gunung yang ada merupakan salah satu bukti para orang zaman dahulu pernah mendaki gunung. Namun konsep mendaki gunung di Indonesia tercatat pada tahun 1964, dimana pada masa itu terbentuk organisasi di tingkat kampus yaitu MAPALA UI di Jakarta yang melakukan kegiatan pendakian gunung. Di Bandung berdiri WANADRI sebagai organisasi penempuh rimba, meskipun kegiatannya tidak hanya mendaki gunung. Namun mendaki gunung menjadi salah satu media untuk berkegiatan. Sejak tahun tersebut bermunculan organisasi yang melakukan kegiatan pendakian gunung bernama pecinta alam. Banyaknya pendaki gunung yang berkegiatan mendaki gunung sehingga pada tahun 1988 di bentuk induk organisasi pendaki gunung yang bernama Federasi Panjat Gunung dan Tebing Indonesia (FPGTI) di bawah KONI sebagai bentuk usaha untuk mengangkat eksistensi pendakian gunung sebagai bentuk olahraga. Namun pada tahun 1994 setelah di akui KONI sebagai federasi sayangnya aktivitas pendakian gunung tidak termasuk kedalam bagian federasi sehingga namanya menjadi FPTI.
Pada tahun 2000 mendaki gunung lebih menonjolkan sisi eksplorasi dan mountenering sebagai induk keilmuan kepecintaalaman. Banyaknya pendaki yang melakukan kegiatan mendaki dengan cara berkemah dan melakukan kegiatan perintisan jalur yang belum ada pada gunung tersebut. Sehingga pada masa itu dibentuk Federasi Mountenering Indonesia (FMI) di bawah Kementrian Kehutanan. Namun jejaknya federasi tersebut kurang di ketahui kelanjutan dan keberadaannya. Kemudian pada 2017 kembali di bentuk lagi (Asosisasi Olahraga Pendakian Gunung Indonesia)  AOPGI di bandung.
Beberapa tahun mendaki gunung memunculkan konsep ekspedisi marathon yakni melakukan pendakian lebih dari satu gunung dalam satu event. Pada tahun itu muncul ekspedisi yang dilakukan secara solo sendiri oleh Wiliam mendaki 23 puncak selama 23 hari. TRIAS (Tambora, Rinjani, Agung dan Semeru) oleh organisasi PAMOR FPOK UPI. Pada tahun 2007 kembali melaksanakan ekspedisi marathon 14 puncak pulau Jawa selama 17 hari. Setahun berikutnya pada tahun 2008 dilaksanakan ekspedisi 14 puncak dalam 14 hari, pada tahun 2009 Wanadri melakukan ekspedisi Seven Summit , di susul Mahitala Unpar yang melakukan ekspedisi yang sama. Pada tahun 2011 Mapak Alam menerjunkan srikandinya untuk melakukan ekspedisi 20 gunung 30 hari, dan Pamor kembali melakukan ekspedisi 14 puncak 10 hari pulau Jawa Bali dan Lombok. Pada tahun 2014 kembali mengadakan ekspedisi 14 puncak 8 hari Trail Running. Masih banyak ekspedisi pendakian yang tidak tertuliskan pada tulisan bagian ini, 
Catatan sejarah dalam mendaki gunung terus berkembang dan dinamis mengikuti peradaban dan cara pandang kebanyakan orang. Namun kegiatan mendaki gunung di Indonesia menjadi tren yang digemari oleh masyarakat khususnya kaum muda yang di penuhi rasa keingintahuan yang tinggi, rasa ingin tahu ketika melihat temannya memasang foto di ketinggian, perubahan sikap setelah mendaki gunung, Kegiatan mendaki gunung menjadi kegiatan para kaum muda tersebut sebagai sejarah petualangan hidupnya untuk menemukan jati dirinya. Setiap pendaki memiliki sejarah yang berbeda dalam mendaki gunung, cerita suka cita, cerita haru ketika mendaki adalah bumbu pendakian yang menjadi candu sehingga orang kembali mendaki gunung. Namun ada yang menjadi catatan sejarah yang diketahui oleh orang lain atau menjadi sejarah bagi dirinya. 

Rabu, 29 Juli 2015

Artapela-gambung sedaningsih

Para pendaki gunung yang budiman, anda mungkin belum tau ya. Ada gunung di bandung selatan yang exotic. Nah ini dia bro artapela 2.269 mdpl dan gambung sedaningsih 2.194 mdpl. Terletak di kabupaten bandung perbatasan antara kecamatan Kertasari dan Pangalengan. Untuk bisa mencapai kesana anda bisa melalui jalur desa Sukapura Kec. Kertasari pos pendakiannya di madrasah Nashrul Huda. Kalau dari Bandung melewati Buahbatu-Bale endah-ciparay/majalaya- Pacet- desa Sukapura. Kalau dari pangalengan bisa dari desa Kertamanah pangalengan.

Digambung sedaningsih anda bisa berkemah di tegal anjing, puncak besar atau puncak sulibra. Suasananya enak bro kalau di puncaknya, tapi di kaki gunungnya lagi di garap oleh warga untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan sampai puncaknya gambung sedaningsih masih saja ada yang bertani disana, padahal di bawah puncaknya udah menjadi cot dan ada danau aul yang melegenda bro. Danau Aul merupakan danau purba buatan alam semesta yang diperkirakan pada abad 17 meletus sehingga membuat caldera yang menjadi danau. Yaitu dia bro danau aul, untuk aul sendiri merupakan sebutan untuk sejenis anjing hutan yang bertubuh manusia dengan kepala terbalik kebelakang. Aneh juga ya bro  yang jelas danaunya indah namun sayang pesisir dano aul ini udah di jadiin lahan pertanian oleh warga.  Tp kalau dilihat dari atas puncak besar, wiiihh mantap CS.

Kalau anda ingin ke puncak arpela, dari gambung anda bisa berjalan kembali sejauh kurang lebih 7 km selama 90 menit berjalan normal. Kalau kesana deketnya sih lewat pangalengan bro.

So, buat anda pendaki gunung dan pecinta kemping di alam, bisa jadi alternatif pilihan untuk mencari ketenangan dan refreshing otak kembali segar.