Tampilkan postingan dengan label hiking trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiking trip. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2020

Catper Artapelaku



          Hai temen-temen! Apa kabar semuanya? Gimana nih quarantine nya? Pasti udah kenyang banget ya hehe. Di situasi pandemi seperti sekarang ini pasti sering ngerasa bosen. Kenapa saya bilang begitu? Karena itulah yang saya rasakan saat ini. Awalnya sih gi main Instagram. Pas saya refresh, ada kiriman terbaru dari Official Artapela. Dan pas saya liat kirimannya, ternyata ada give away gitu. Dan pas saya baca give away nya yaitu "Daptkan 5 buku Manajemen Pendakian, untuk 5 orang yang bikin Cerpen/Carper (catatan perjalanan) ketika mendaki ke Gunung Artapela. Untuk cerpen terbaik akan mendapatkan free buku manajemen pendakian gunung".
Dari awal baca, saya udah tertarik banget. Pertama, hobi aku emang nulis. Kaya cerpen, puisi, dan karangan lainnya. Kedua, pas liat give away itu emang langsung tertarik aja, apalagi liat hadiahnya. Buku Manajemen Pendakian, ga menarik gimana coba. Disitu saya langsung berniat untuk ikut give away itu. Emang kebetulan juga saya pernah muncak ke Gunung Artapela.
    Saya mulai cerita dari awal perencanaan. Jadi, waktu smp pas disekolah saya diajak  teman untuk mendaki ke Gunung Artapela. Awalnya pas denger, kurang tertarik. Pertama, karena emang saya belum pernah muncak jadi kaya kurang tertarik aja. Kedua, saya gak berani aja minta izin ke orang tua buat pergi muncak kaya gitu.
Setelah itu, saya pulang ke rumah. Terus saya mengingat obrolan tadi di sekolah. Dan saya penasaran tentang Gunung Artapela. Saya langsung cari tau ke google. Saya langsung liat "images". Pas liat wahhh keren banget. Gak sampe disitu, Saya juga mencari tau ke instagram. Dan search "Artapela". Dan yang keluar Official Artapela. Pas saya liat-liat, tambah ngerasa tertarik aja gitu. Setalah itu saya menyudahi untuk stalker Artapela karena sudah larut malam wkwk.
    Hari-hari berlalu. Dan waktu di sekolah, saya dan teman-teman kembali membahas tentang perencanaan muncak itu. Dan saya semakin tertarik karena teman-teman yang lain juga ikut. Tapi saya berpikir keras bagaimana mendapatkan izin dari kedua orang tua.
Setelah pulang sekolah, saat di ruang keluarga kakak ku berbicara bahwa ia meminta izin untuk mendaki ke Gunung Ciremai. Orang tua pun menanyakan banyak hal kepadanya. Dari mulai apakah fisik kamu sudah kuat untuk mendaki kesana? Dan ia pun menjawab "siap". Karena memang kebetulan kakak ku memang suka mendaki. Lalu ayahku bertanya lagi "dengan siapa kamu akan kesana","siapa saja?","perempuannya banyak atau tidak"dan banyak pertanyaan lainnya. Saat itujuga, setelah kakak ku selesai bicara, aku meminta izin untuk mendaki ke Gunung Artapela. Aku menjelaskan secara detail. Namun orang tua ku belum memberikan jawaban pasti apakah membolehkan atau tidak.
Banyak cara yang saya lakukan untuk meyakinkan kedua orang tua ku. Salah satunya dengan membawa teman ke rumah untuk menjelaskan juga kepada orang tua ku. Tidak hanya sampai disitu, saya juga dibantu oleh kakak kelas dalam meyakinkan orang tua ku. Dan menunjukkan bahwa kakak kelasku menjadi penanggung jawab.
Dalam menjelaskan kepada kedua orang tua, saya tidak sedikitpun menyertakan perkataan dusta. Karena yang saya takutkan selain mendapat dosa adalah aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan saat mendaki nanti.
     Waktu terus berjalan, sampai tiba waktu dimana orang tua ku memperbolehkan untuk mendaki ke Gunung Artapela. Senang sekali rasanya. Karena ini pertama kali saya mendaki. Saya membayangkan betapa bahagianya saya saat nanti mendaki bersama teman-temanku.
Satu hari sebelum pemberangkatan, saya melakukan “packing” untuk menyiapkan semuanya yang dibantu oleh kakak ku. Kebetulan waktu pemberangkatan kita sama, hanya beda tujuan. Saat malam hari ketika saya hendak tidur, saya “memikirkan gimana sih rasanya muncak”. Dan esoknya saya merasakan hal itu karena sudah tiba  saatnya untuk Aku mendaki ke Gunung Artapela.
      Ya, tanggal 22 Agustus pun tiba, saya berangkat ke tempat kumpul pukul 11.00 yang tepatnya di Pendopo kecamatan Banjaran. Semua telah ada disana. Sebelum pemberangkatan, Kita mengecek dulu barang bawaan agar tidak ada yang tertinggal. Lalu setelah adzan dzuhur berkumandang, kita sholat berjamaah di Mesjid Alun-Alun Banjaran. Pukul 14.00, kita memulai pemberangkatan dengan mengggunakan angkutan umum yang kita sewa. Sebelum memulai perjalanan, Kita melaksanakan do'a bersama agar dilancarkan serta tetap ada dalam lindungan Allah S.W.T. Dari awal perjalanan, rasa senang dalam hati sudah tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Di dalam mobil kita bercanda tawa hingga raut wajah bahagia terpancar dari setiap kita. Waktu berlalu begitu cepat, sampailah kita di tempat pemberhentian angkutan umum. Kita diantar sampe situ. Kita mulai turun dan menurunkan seluruh barang bawaan. Lalu kita mulai menuju Pos awal. Tempat dimana saya dan kawan-kawan menemukan banyak orang yang akan mendaki juga. Sebelum mulai mendaki, Kita mengbrol banyak Hal lalu melaksanakan do'a bersama sebelum pemberangkatan. Waktu terus berjalan, tibalah saatnya kita memulai Pendakian. Awal-awal memang belum terasa lelah, tapi semakin lama rasa lelah pun menghampiri. Tapi memang terasa sangat menyenangkan. Berjalan bersama teman-teman sembari mengobrol Hingga bernyanyi. Di perjalanan, kita berhenti beberapa kali. Namun, teman laki-laki saya Tidak merasa kesal ataupun marah karena banyak berhenti. Karena mereka sudah Tau apa resiko membawa perempuan mendaki. Ya, itu. Perjalanan terus saya nikmati. Lalu sampailah disuatu tempat yang datar. Disana kita istirahat sambil melaksanakan sholat ashar. Sambil minum Dan bersantai beberap saat. Lalu setelah semua selesai, Kita melanjutkan perjalanan. Hari mulai memasuki malam, matahari semakin terbenam, hujan pun turun. Di perjalanan Kita mendapat tantangan berupa hujan. Jalan menjadi licin, sehingga kita sedikit kesulitan. Apalagi saya sebagai perempuan dan Kali pertama muncak, saat hujan turun, saya merasa sedih dan takut. Takut terjadi apa,-apa karena kondisi yang licin dan lain sebagainya.
       Malam semakin menghampiri, fisik sudah mulai melemah. Kondisi hujan membuat badan menjadi sangat dingin, ditambah cuaca yang memang sedang dingin. Ditengah perjalanan saya merasa pusing, awalnya saya tidak pedulikan. Tapi semakin kesini, semakin pusing. Saya berbicara kepada teman, Dan teman berbicara kepada Kaka kelas. Darisitu, tas Saya langsung dibawakan oleh teman laki-laki saya. Lalu Saya berjalan didampingi oleh teman-teman. Disitu saya merasa terharu. Karena terasa bagaimana sahabat yang benar benar sahabat. Kebetulan waktu mendaki, Saya sedang ada pertikaian dengan salah satu teman laki-laki saya, sebut saja dia Akya. Tapi sewaktu mendaki, saat saya hendak berdiri ketika akan melanjutkan perjalanan, Akya menyalurkan  tangannya untuk membantu Saya bangun. Disitu saya merasa terharu. Disitu Kita kembali baik seperti biasa. Perjalanan dilanjtutkan, namun Kita dibagi menjadi 3 Tim. 1 Tim mendahului melanjutkan perjalanan agar bisa mendidikan tenda.
Perjalanan terus berlanjut, Saya terus menerus bertanya “masih jauh?” Pasti jawabannya selalu “sebentr lagi sampe”. Padahal masih jauh. Terus begitu sampai akhirnya sampai. Dan saya melihat tenda sudah terpasang kokoh. Lalu kita melaksanakan sholat maghrib dan isya yang di jama'. Setelah itu Kita membereskan barang barang untuk dimasukan ke tenda. Lakilaki  Dan perempuan dengan tenda terpisah. Setelah itu, Kita mengobrol betapa asyiknya selama perjalanan mendaki. Kita menghabiskan cemilan cemilan yang Ada. Sembari laki-laki memainkan gitar, Dan Kita bernyanyi bersama. Ditengah suasana malam diatas gunung. Betapa menyenangkannya. Dan seketika Saya melihat sekeliling, Saya takjub! Ternyata bumi Indonesia memang indah. Saya terharu melihat keindahannya. Setelah malam semakin larut kita pun tertidur. Ditemani dinginnya malam.
        Tak terasa, malam berlalu. Saat bangun, Kita langsung melaksanakan sholat subuh. Dan siap siap untuk melihat sunrise. Sayang sekali, Kita melewatkan suasana itu. Lalu Kita berfoto bersama. Dan sayangnya tidak terlihat samudra awan. Tapi tak apa, tetap menakjubkan bagi Saya. Lalu setelah itu kami bersiap until pulang. Kami mulai berkemas. Dan setelah semua siap, lalu ada akang-akang yang menghampiri dan berucap kepada teman saya “kang, hayu foto bareng dulu”. Kita berfoto bersama banyak pendaki yang kebetulan berbarengan dengan kita. Saya merasa senang sekali. Dari mulai perjalanan sampai akhir perjalanan. Saya merasa bangga dengan bumi Indonesia yang sangat indah. Di Alam, berbagai masalah bisa terlupakan. Di Alam, bisingnya kota bisa terlupakan. Terimakasih Artapela, kenangan indahmu Akan selalu terkenang indah. Semoga lain waktu saya bisa kembali.














-Cerpen By : Ghefira Salma Tsurayya
       @ghefirasall_
                      +62822-1677-8451
  



Artapela 2018,

Berbaring di kasur ternyaman, melepaskan segala beban yang sudah lama tidak menemukan muara untuk pulang. Gadis remaja bernama suarina Ini Terbiasa bersibuk ria menuntut ilmu di pesantren, tapi selalu Punya mimpi ingin pergi ke tempat yang Bisa membuatnya lebih dekat dengan langit.
Suarina yang kerap di panggil suar ini, memiliki saudara yang sudah menjadi karibnya selama 15 tahun terakhir. Sejak TK, SD dan SMP pun mereka selalu bersekolah di sekolah yang sama.  Tapi memasuki jenjang SMA, suarina memilih bersekolah di luar kota dan meneruskan pesantren di sana. Dan saudara karibnya yang bernama fatih Pun memilih untuk meneruskan sekolah nya di bandung.
Saat ini suar sedang pulang setelah menghabiskan 1 semester di sana. Suar begitu menggilai hal-hal berbau pendakian meskipun belum pernah sekalipun pergi mendaki ke gunung. Ia selalu punya keinginan untuk bisa pergi dan mewujudkan harapannya, yaitu untuk bisa lebih dekat dengan langit.
Akhirnya sang maha semesta mengabulkan tiap harapannya. Fatih mengajaknya pergi mendaki gunung Artapela untuk pertama kalinya,  bagi fatih ini Kesekian kalinya ia pergi mendaki Gunung.  Tanpa basa basi suar pun mengiyakan ajakan fatih.
"fatih,  tapi kan aku tidak punya peralatan untuk mendaki,  carrier pun aku tidak punya? ". Tanya suar
"sudahlah,  masukan saja barang-barang mu ke dalam tasku. Dan sebagai gantinya kamu bawa gitarku. " jawab fatih
"Memang tidak apa apa? ".
" Tenang, tidak papa,  lagi pula kan ini pertama kalinya kau pergi mendaki, biar aku jadikan mu sebagai ratu di sana. Dan supaya tinggi badanmu tidak makin pendek karena membawa tas yang berat,  hhi. " nada fatih meledek.
" gimana kamu aja tih, malas aku bicara denganmu. " timbal suar sambil menempelkan tangan kanannya di kening.
" nanti kita berangkat dzuhur,  jadi bersiap siaplah."
" oke siap. "
••••••
Dzuhurpun tiba setelah selesai solat, Suar dan fatih bergegas pergi. Mereka tidak hanya berdua,  fatih mengajak sahabat sahabat mereka yang lain.  Yaitu Ridho sebagai orang yang akan menunjukan jalan,  Ardi, dan yang lainnya. Perempuan yang lainnya pun ikut serta yaitu sani dan resma. Mereka pergi dengan rombongan para sahabat lainnya.
Jam menunjukan pukul 14:00 WIB, menunjukan mereka harus segera memulai pendakian. Sebelumnya mereka sempat mampir ke sebuah musola untuk membersihkan beras untuk di masak nanti, kemudian melanjutkan perjalanan kembali.  Awalnya semua berjalan lancar bagi suar,  ia mulai menaiki tangga-tangga tanah Yang kemudian menyuguhkan pemandangan pemukiman sekitar yang begitu indah dari ketinggian yang masih rendah.  Hingga tiba-tiba pandangan suar mulai gelap,  kepalanya berputar-putar,  nafasnya mulai sesak, ia sesekali berhenti lalu kembali berjalan,  hingga akhirnya dia memilih untuk duduk dan menepi lebih lama.  Di sekeliling nya ada fatih,  ridho dan ardi,  merekapun ikut berhenti ketika melihat suar mulai kehilangan tenaga untuk berjalan.
" udah kalian jalan duluan aja". Ucap suar dengan penglihatan yang masih abu abu.
Tapi mereka bertiga tidak menggubris ucapan suar sedikitpun,  mereka malah terus saja bicara dan bercanda di depan suar. Suar pun tersenyum.
" Di sini masih ada sinyal do,  main ML bentar ah". Ucap fatih sembari Tertawa memainkan handponenya.
" bener tih,,  mabar yu mabar". Sahut ridho
Suar hanya tersenyum, mendengar teman teman lamanya yang gila itu.  Ada sepercik perasaan bersyukur di hati suar,  sebab ia temukan kembali masa-masa yang sudah hilang bertahun-tahun lalu bersama mereka.  Suar pun menyadari kesalahan fatalnya adalah ia belum sempat makan sebelum pergi mendaki tadi.
" sudah yu jalan lagi".ucap suar
" udah santai, istirahat Aja  biar pulih dulu. Ngak perlu buru-buru, udah nikmatin aja. " balas ridho
" udah ayo jalan,  yang lain udah pada jauh tuh. " Sahur suar.
" Yaudah iyah, yu jalan lagi takut kemaleman." sahut fatih.
Merekapun kembali berjalan.  sungguh, ini pengalaman pertama bagi suar mendaki gunung, di perjalanan ia banyak menemukan kebun-kebun pertanian para petani,  memang jalur yang mereka lewati sudah bisa di jangkau dengan kendaraan bermotor.
Sesekali mereka beristirahat, saling melempar gurawan, Saling berteriak sebab suara mereka menggema dari balik bukit,   saling tertawa dan saling menyiratkan bahwa perjalanan ini begitu menyenangkan. Suar banyak-banyak Bersyukur di beri kesempatan untuk bisa pergi bersama mereka.
Setelah melakukan perjalanan sekitar 4 jam,  mereka pun sampai ketika langit sebentar lagi hendak gelap.  Para kaum adam pun membangun tenda, mereka membangun 3 tenda,  para kaum hawa pun hanya diam melihat mereka mengotak atik barang,  tapi sesekali suar pun membantu mendirikan tenda. Mereka membagi-bagi tugas,  untuk membawa air,  mencari kayu bakar,  ataupun hal hal penting lainnya.
Langit pun gelap,  sudah waktunya solat. Suar tidak tau kemana harus mencari air untuk wudhu di keadaan yang sudah gelap, ia memilih melakukan tayamun, mengusap tangan dan wajah, lalu melakukan solat di dalam tenda.
Malam semakin larut dalam dingin, di terpa angin yang begitu kuat menerpa kulit. Diluar tenda fatih bermain gitar seorang diri,  mungkin sedang menikmati kepingan luka yang pernah ia jahit di dalam dadanya. Yang lainnya juga sibuk bergurau,  menertawakan hal hal receh yang pernah ada.  Suarpun berdiam di dalam tenda Bersama sani dan resma,  tenda mereka berhadapan dengan tenda ridho,  bertujuan untuk menghalau angin agar tidak terlalu kencang Menerpa.  Ridho menyalakan kompor kecil,  lalu memasak air untuk wedang jahe yang akan ia teguk,  ia kembali menambahkan jahe ke dalamnya,  supaya hangatnya semakin menghangatkan tubuh.
Suarpun mencoba terlelap,  tapi pahanya terasa begitu sakit,  benar-benar sakit,  ia merasa dingin, benar-benar dingin,  suar pun khawatir takut terkena hipotermia,  ia pun membuka handphone lalu berusaha mencari tahu gejala gejala hipotermia,,  tapi nahas sinyal begitu tak bersahabat,  hanya messenger yang bisa ia gunakan. Akhirnya ia meminta tolong untuk di carikan gejala gejala hipotermia pada sahabatnya. Beruntung, setelah sahabatnya mengiriminya scrennnan gejala hipotermia, suar bisa bernafas lega. Ternyata apa yang ia alami bukan gejala hipotermia.  Sedikit demi sedikit rasa sakit di paha nya mulai mereda, akhirnya ia bisa tertidur dengan pulas.
Pagi pun meninggi, kejutan pun terpampang di hadapan suar.  Langit yang cerah matahari yang menyinari.  Dan yang paling memukau suar adalah untuk pertama kalinya ia melihat pelangi begitu dekat, di depan matanya. Meskipun kaki suar masih terasa sakit,  dan berjalan dengan sedikit terpincang-pincang.
Merekapun berkumpul,  menikmati dataran awan yang membentang menutupi pemukiman warga di bawahnya. Mereka bersua foto,  mengambil gambar dari sudut sudut paling eksotis,  sungguh pengalaman yang tidak akan pernah bisa suar lupakan.
Suar pun menatap haru daratan awan yang memanjakan pelupuk matanya. Dalam hati ia tidak berhenti mengucap sukur pada sang semesta,  ia pun menatap langit lantas menyadari. mimpinya terwujud dengan begitu sempurna.
Suar kembali menemukan tawa luar biasa dari  para sahabatnya.  Ia temukan kembali rasa bahagia dan rindu yang sudah lama sirna. Ingin rasanya suar tetap tinggal sepanjang waktu di sana.  Di ketinggian 2194 meter dari permukaan laut. Di syurga dunia puncak sulibra. Artapela.
Setelah dzuhur merekapun bergegas kembali untuk pulang.  Meninggalkan puncak tapi tidak meninggalkan segala kenangan tentang ketinggian.  Suar  berdoa,  semoga bisa kembali dan menuai cerita bahagia di lain suasana. 
Suarpun kembali merebahkan diri di kasur kesayangan, ia tersenyum kecil.  Lantas mengucap syukur begitu gempur,  lalu ia tertidur setelah lelah melakukan perjalanan paling mengesankan itu.



Tantri Setiawati,
Bandung, 17 mei 2020.
Ig : @stnsw.x
Fb : Tantri s


















Ditulis oleh        : Neelan Eka Yuniar
Facebook          : Neelan Eka Yuniar
Instagram          : @neelan88

“Cobain ke Artapela, Cuma kebun doang.” Pernyataan simpel dari seorang teman yang saat itu sedang gencar-gencarnya meracuni pikiran dan imajinasiku mengenai nikmatnya mendaki gunung. Hanya kenikmatan dan keindahannya. Jelas menggebu karena kala itu aku baru tersembuhkan dari rasa campuran antara sedikit penyesalan ditambah sedikit trauma setelah mendaki Gunung Rakutak untuk pertama kalinya pada Mei 2016. Untuk seorang pemula, apalagi perempuan yang jarang sekali berolahraga, atau bepergian jauh yang membuat tubuh terlatih dengan rasa lelah sampai bercucuran keringat, gunung tersebut cukup membuat aku sendiri sampai berucap “Alhamdulillah bisa sampe, tapi sumpah kedepannya gak akan lagi mau diajak muncak”. Aku tidak akan jelaskan alasan mengapa aku berkata demikian karena sebagian orang mungkin sudah tahu bagaimana medan dan jalur pendakian Gunung Rakutak bagi pemula perempuan ya, bukan bagi laki-laki apalagi yang sudah pro, jadi mohon bijak menanggapinya huhu ...
Masa-masa penyembuan dari trauma naik gunung berlangsung hingga pada awal agustus 2019 yang mulai tertarik “nikreuh” lagi karena tanpa disadari diri ini semakin dekat pada hal yang berhubungan dengan pendakian. Banyak teman yang secara konsisten menjajal beberapa gunung besar dan berbagi cerita. Hingga pada 16 Agustus 2019 aku Arth, diajak teman saya Tha dan Vela untuk nanjak dan bermalam di Gunung Artapela. Entah mengapa hati ini langsung yakin, antusias dan berani. Berani mendaki tanpa diantar teman laki-laki atau kenalan yang sudah pro.
Tiga perempuan lajang siap berangkat mendaki pada tanggal 17 Agustus 2019, aku yang kebetulan berprofesi sebagai Guru SMP Negeri didaerah tempatku tinggal sampai harus meminta izin untuk tidak mengikuti Upacara Hari Kemerdekaan pada saat itu karena memiliki  kesempatan langka dan merasa sudah sangat penat dengan jadwal yang padat. Tha, adalah pengusaha minuman yang saat ini sedang viral sekaligus pemilik tenda kece yang kami pakai untuk berkemah. Tidak banyak cerita tentang dia selain seorang yang sedikit pendiam namun “cengos” hanya ketika kami bersama. Satu lagi Vela, si pecinta teh dan kopi yang mungkin 80% tubuhnya sudah mengandung caffeine. Meskipun dia mengaku 85% tapi percayalah dia hanya bercanda. Mantan pemain boxing ketika masih kuliah jurusan Analis kimia, namun berakhir menjadi guru IPA di sekolah yang sama denganku. Ya .. kami rekan kerja.
Bermodalkan Google Map menuju basecamp Cirawa, sampailah kami sekira pukul 7.00 pagi dengan masing-masing Carriel overloadnya. Vela yang seperti “buyur” adalah orang yang paling rutin membutuhkan toilet. Aku  menyebutnya “Si usus lempeng”. Setelah Tha mengurus simaksi kami secara bergantian izin memakai toilet salah satu warga. Kekonyolan pertama dimulai dari Vela yang mengalami kemalangan “kancing coplok” sehingga harus meminjam bola untuk menyulam ulang kancing tersebut. Setelah bersiap kami berdoa untuk keselamatan pendakian. Start pukul 08.00 pagi, 15-20 menit berlalu kami berada di jalur yang dilalui motor trail, agak mengganggu memang karena kita harus menepi hingga menempelkan pada apapun yang ada disamping jalan.
.... the fire’s inside us, it’s out of control which way to go? Will never know
But you take me to places never beenbefore
I can’t take it no more, i’m yours .... (Jonas B & Chelcee – Wild)
Manusia tak luput dari dosa bukan? Dosa pertama yang kami lakukan adalah ketika tangan membutuhkan Trekking Pole, didepan mata disuguhkan ranting kering yang menghalangi jalan, jiwa tebas kami membara. Maafkan kami yang mencuri ranting namun kami tetap meminta izin ditempat ketika membuat Trekking Pole virtual tersebut sehingga kami rasa dosa kami tidak terlalu berat untuk kami tanggung bertiga. Apa sih yaa ..
.... geudaeneun eodie innayo, nohjimarajwo
Remember now to save me .... (Monogram – Lucid Dream)
Memang benar Artapela itu hanya kebun, tak ada hutan. Matahari yang masih terasa hangat ditubuh menjadi alasan rasa senang, nyaman dan bahagia ketika hanya melihat para petani yang sedang panen, melontarkan candaan, tertawa bersama dan semakin maju berlalu. Dari kejauhan nampak para pendaki yang turun terdengar bersorak ria, tanah kering berwarna coklat keemasan, warnanya cantik tersorot matahari pukul 09.00 pagi, mengasap akibat pijakan kaki para pendaki. Cantik namun tetap “kebul” guys apalagi kena mata sama hidung, “peurih” L.
.... geuttae urin seororeul bomyeo
sarangeul yaksokhae .... (BrotherSu & SE O – While you were sleeping)
Tiga puluh menit berlalu “salatri” tiba lebih awal, Vela membuka roti gulung selai strawberi buatan Ibu Fatmawati, lezat sekali. Posisi di hamparan kebun yang terlihat tandus karena baru beberapa hari sayuran seperti kentang, kol, dan wortel dipanen. Benar-benar kering dan bisa dibayangkan betapa “kebul”nya sepanjang tanah disana. Selain karena beban carriel yang subhanallah sekali, logistik yang berlebihan, perlengkapan tidur dan solat, peralatan masak yang luar biasa lengkap juga karena niat awal adalah nanjak santai maka santailah kami ini. Banyak pendaki tutun yang bilang “semangat teh 5 menit lagi” kami jawab “Bohong” yang diakhiri tertawa bersama. Teriak sekeras yang kita bisa, buang gas dengan santai dan bebas haha .. Keseruan-keseruan kecil yang sulit ditemukan jika bukan digunung.
.... made it through the maze to find my one in a million
Now you’re just a page torn from the story i’m living ... (MIIA – Dynasty)
Ucapan adalah doa, niat santai maka sampai ke puncakpun kami memakan waktu 5 jam di gunung Artapela. Malu sebenarnya..
.... arms, I’ll be safe in your sound ‘til I come back around
For now the day bleeds into nightfall .... (Lewis C – Someone You Loved)
Sedikit cerita tentang bagian pahit yang dialami Vela ketika 400-500 meter sebelum sampai ke puncak, dia mulai merasa ingin menyerah, sudah terlalu capek, panas yang sangat menyengat, bahunya lecet karena air sekitar 4-5 liter dia bawa sendiri, the best. Aku  sendiri tidak tahu penderitaannya sampai seperti itu karena aku sudah jauh memimpin didepan dengan pikiran bahwa salah satu dari kami harus cepat sampai dipuncak untuk menandai area dimana tenda akan kami dirikan, mengingat cukup banyak pendaki yang naik saat itu. Jujur saja kami adalah pendaki yang sedikit “ogoan”, ingin tempat yang nyaman dan tidak terlalu berisik dan yang pasti view adalah yang paling utama. Terimakasih atas pengorbananmu Vela, love you .. you are a true wonderwoman.
.... you don’t know me and you don’t know my style
Fast with the cash I just throw it in the bag, everything i wanna have,
Well I think you get the gist .... (CL - Lifted)
Pukul 01.00 siang kami merebahkan diri ditempat yang kami tandai dan mulai mendirikan tenda, serta berkeliling melihat sekitar sambil mencari keberadaan toilet yang merupakan hal terpenting bagi kami bertiga saat berkemah. Beberapa toilet darurat cukup banyak namun jauh dari kata layak. Kami ingat seorang bapak diperjalanan mengatakan jika kami membutuhkan bantuan, carilah Pak Cahyu. Beliau adalah penjaga puncak Artapela agar tetap aman, bersih dari sampah dan pusat informasi yang berhubungan dengan basecamp.
.... you make me sing “Ooh la la laa
You make a girl go “Ooh ooh” I’m in love, love .... (Echosmith - Bright)
Waktu berjalan cepat, kami menemui pak Cahyu dan disediakan air wudhu serta dipersilahan untuk menggunakan saung tempatnya beristirahat sebagai tempat solat zuhur. Setelah kembali ke tenda kami mulai melakukan ritual, membongkar isi carriel, menata makanan, alat masak dan pakaian ditempatnya masing-masing. Sungguh lebaynya kami adalah camping itu seolah-olah menginap di hotel. Tetapi kami adalah orang-orang yang berkomitmen dengan segala keinginan. Momen Hari Kemerdekaan itu kami maknai dengan bersyukur, karena merdeka itu sejahtera bukan? Tidak mengizinkan dirimu mengeluh pada keadaan apapun, maka sejahtera setara dengan bersyukur. Doa kami hari itu hanya meminta pada Tuhan YME untuk menjadikan kami manusia Indonesia yang ahli syukur.
.... If you lose your everything, think you can’t go back to the time
Keep in mind it’s not your fault, in the end I am gonna be with you .... (Dok2 & Mad Soul Child – Player)
Senja mulai tiba, keceriaan kami nikmati dengan mendengarkan musik-musik instrumental dan mengisi suara dengan lantunan lirik sehingga terdengar seperti konser bagi kami, harmonisasi tiga suara yang dipadukan medadak terdengar diluar dugaan. Menikmati teh Thailand untuk menghangatkan tubuh, menyantap mie instan yang dipadukan dengan tahu, sosis dan rumput laut, hingga tak sadar bahwa matahari senja yang sangat cantik mulai menyorotkan pesonanya, lekas kami mencari kamera untuk mengabadikan momen layung senja yang cukup cepat menghilang. Disinilah momen-momen mendebarkan sebagai seorang campcer lovers ketika berpacu dengan waktu senja, situasi masih aman dan tidak terlalu ramai.
.... You raise me up, so I can stand on mountain
You raise me up to walk on stormy seas .... (SH – You Raise Me Up)
Diujung pandang tersamar seorang pria muda yang tersenyum-senyum pada kami, semakin mendekat semakin jelas bahwa dia mengenal salah satu dari kami. “Bu, hehehehhe” teriak anak itu. Salah satu siswa Vela di SMK ternyata, namanya Nanang, hiking bersama seorang gadis, mungkin gebetannya, atau mungkin juga pacarnya, entahlah L. Mereka bergabung di depan tenda kami, setelah diperhatikan sepertinya mereka hanya membawa raga tanpa amunisi, lalu kami tawari makanan tapi sungguh angkuhnya mereka menolak sambil tertawa-tawa “Enggak bu ah sok aja buat ibu, takut ibu gak kenyang”. Sialnya ketika mereka akan turun karena hari sudah sore, mereka menitipkan sesuatu pada kami, satu buket sampah yang ia tabung dalam saku-sakunya selama mendaki, “Doraka pisan ka guru”. Oh ya gadis yang bersama dengan Nanang bernama Nining yang mungkin jika suatu saat berumah tangga dan menamai anaknya Nang Ning Ning Nang Eeuu, skip.
.... She works the night, by the water
She’s gonna stress, so far away from her father’s daughter .... (Hyolyn – Rockabye)
Azan magrib terdengar dari handphone Vela, kami bereskan kartu cangkulan joker tempe, lope, kriting dan pasung yang kami mainkan, cangkang kuaci yang lumayan membuat mulut kami keram, mengamankan Mic Abah yang saat itu launching perdana di atas gunung. Memasukkan semua barang-barang kami kedalam tenda dan mengeluarkan alat solat, tisu, headlamp, dan mengumpulkan botol kosong untuk kami isi ulang saat kami turun menuju saung Pak Cahyu yang berjarak sekitar 700 meter dari tenda. Sedikit tersentak ketika berdiri dan melihat sekitar, tanpa disadari tenda kami sudah di kepung oleh tenda-tenda lainnya, seperti imam yang diaping oleh makmum. Ciee.
.... All the flowers are gone away, He has gone away again
Carrantuohill and cliffs of Moher, and last night he came to me .... (LJE – The Longing Dance)
Pak Cahyu Pahlawanku. Sungguh, kami diizinkan berwudhu menggunakan air yang beliau “kunjal” sangat jauh. Air yang sangat bersih dan dingin, kaya si dia L. Karena bersih, Pak Cahyu menawarkan untuk mengisi botol-botol kosong untuk persediaan kami. Setelah solat magrib kami luangkan waktu untuk mengobrol dengan Pak Cahyu, seputar Artapela, seputar keluarganya, kepedulian beliau mengurus kebersihan area camp, dan banyak lagi. Artapela beruntung memiliki Pak Cahyu, teringat kebaikannya ketika mengucapkan “Kesini aja neng kalau butuh apa-apa mah, air juga kalau habis kesini aja”.  Mungkin karena tahu kami hanya bertiga dan perempuan semua, beliau lebih perhatian pada kami, padahal saya tahu sejatinya Pak Cahyu memang orang yang sangat baik.
Api Unggun, kami tentu tak ingin melewatkannya meskipun beberapa gunung mulai melarang membuat api unggun di area camp mengingat saat itu juga sedang musim kemarau yang tentu membahayakan kelestarian alam jika terjadi kebakaran. Namun aku melihat tumpukan kayu bakar yang lumayan banyak di saung Pak Cahyu, aku pikir apa boleh yaaaa. Kulihat beliau memiliki tungku, aaaahhh mungkin itu kayu bakar persediaan beliau selama menginap disini. Tapi hati ini tetap greget. “Pak, di area camp boleh bikin api unggun gak?” aku yang spontan. “Boleh neng, neng mau bikin api unggun?” jawabnya. Waaahhhh senaaanggg. Kami bertiga langsung saling tatap dan tersenyum-senyum (saling tatap antara aku, Tha dan Vela yaaa). Kami membeli kayu yang sudah disiapkan oleh Pak Cahyu. “Nanti aja bapak anterin kayunya sambil patroli neng, kasian berat” tuturnya. Cieee fix Pak Cahyu adalah Dilannya Artapela.
.... We let the waters rise, We drifted to survive
So I could care just before we, Collapsed, collapsed, collapsed
Oh, how the darkness keeps it’s grip? .... (Natalie Taylor – Surrender, Collapsed, Come to This)
Saat perjalanan kembali kedalam tenda, kulihat ada yang aneh dengan sorotan senter dan headlamp, tiba-tiba kudangahkan kepala melihat langit dan waaww, jutaan bintang menyambut kami, indah sekali. Jauh tetapi sinarnya membuat bumi hampir seterang pagi hari dan kuberbisik dalam hati “Kini dan esok adalah hari baik”. Dan yeah kami lapar kembali. Tha membuka lapak untuk memasak, Vela membongkar timbunan makanan. Mie instan + tahu + rumput laut, sosis panggang, rendang buatan ibu Fatmawati siap disantap, serta kebab dan pizza yang hanya dalam imajinasi saja, karena ribet jika kedua makanan itu kami bawa naik gunung, tak lupa teh Thailand tetap mewangi disekitar tenda kami membuat banyak bisik-bisik manja dari tenda lain . Ditengah kenikmatan yang Allah SWT berikan untuk perut kami, tiba-tiba sorotan senter yang lebih dari satu mengarah pada tenda kami, sungguh kaget dan ayam ayam ayam (ih latah). Hati kami berdebar dan sedikit takut ada apa ini.
Effect slow motion dan terdengar lantunan
See ya never gone my way .....
Better will someday ....
Never far away .... (Heize & HSJ – Round and Round)
Ku tak percaya momen seperti ini akan terjadi, semakin sorotan mendekat dan menyilaukan mata kami, dengan perlahan munculah sesosok pria menghampiri dengan dua orang teman dibelakangnya, menggunakan kupluk dan syal leher, dengan botol air di tangan kirinya. Sama seperti ketika kau ditunjuk gurumu untuk maju kedepan dan mengisi soal di papan tulis, hatiku pun berdebar seperti itu, persis. Jangan berpikir yang tidak-tidak ketika membaca ini karena akupun menyesal beberapa detik kemudian. Persoalan dijantungku berakhir dan berpindah pada tangan yang menyangga pada tanah tiba-tiba menjadi lemas ketika kulihat satu teman dari pria didepannya memeluk seikat penuh kayu bakar. Gubrakk.
“Neng, masih ada airnya? hehe kayu bakarnya mau sekalian bapak “hurungin”?” ucap Pak Cahyu, si pria berkupluk. Seketika musik slow motion yang terngiang dalam imajinasi ini berhenti dan berganti dengan suara-suara riang tawa dari tenda lain yang entah menertawakan apa, namun dalam situasi seperti ini jiwa baperku bangkit, tawa mereka seperti tertuju pada kebobrokan imajinasiku. Aku malu pada diriku dan gunung tempatku berpijak saat itu. Pak Cahyu datang untuk berpatroli diseluruh area camp bersama dua temannya, sekaligus membawakan kami kayu bakar dan air untuk berjaga-jaga bila di butuhkan, saat itu sekitar pukul 08.00 malam.
.... A whole new world,
a new fantastic point of you (Zayn Zhavia – A Whole New World)
Saatnya berkencan dengan api unggun, kami bertiga keluar tenda dan duduk diatas matras mendekat pada sumber kehangatan, kuputar lagi playlist musik di handphoneku dan bersenandung lembut mengikuti irama musik dan lenggokan api yang saling berpautan. Kami bertiga menyenderkan punggung satu sama lain. Ditengah candaan yang tak ada habisnya datanglah seorang pria dari tenda samping menghampiri kami dengan langkah yang sedikit ragu, dalam hati ini bergumam “kisah pria yang menghampiri, lagi?”. Ku sebut si pria micin, karena datang untuk meminta sesuatu yang kami tak punya, micin.
.... Up’s the only direction I see
As long as we keep this, low low low low low low low lowkey .... (NIKI - Lowkey)
Api mengecil, dan waktu menunjukkan pukul 10.00 malam. Kami adalah wanita-wanita disiplin, meskipun bisa saja kami begadang menghabiskan malam indah yang sayang jika dilewatkan, namun kami terbiasa menempatkan sesuatu sesuai porsinya, jika dirasa cukup yasudahlah. Beberapa batang kayu kami sisakan untuk api unggun kedua di subuh hari, karena itulah saat-saat paling dingin di atas gunung. Semua alat dan makanan kami amankan didalam tenda kecuali sepatu, matras dan kayu bakar.
.... sumi meojeul deut, sirin tongjeungi
Jaebit haneurae bulkge muldeureoganda ... (Kim Yuna – Be Colored)
Tentu saja tidur kami tak nyenyak, disamping tenda yang dikelilingi beberapa tenda lain dengan jarak yang lumayan dekat, hal biasa dari pendaki pada umumnya adalah semakin malam adalah waktu yang semakin asik untuk berisik. Dan benar saja, tengah malam sangat riuh dengan obrolah dan candaan bahkan teriakan. Ketika malam menjadi sangat dingin barulah sepi membuat tidur kami sedikit nyenyak.
....Nae gaseumeun haneopsi badakkaji
Nareul dulleossaneun modeun ge duryeowojyeo .... (Rosseane – If It Is You)
Seperti biasa azan subuh berkumandang dari handphone Vela saat tidur sedang nyenyak-nyenyaknya. Kami bangun untuk mencuci wajah dan menyikat gigi secara bergantian menggunakan air sedingin es. Sungguh aktivitas itu kami lakukan disaat semua tenda sepi, konyolnya kami mengendap-endap supaya tak mengganggu mereka yang sedang tertidur. Tayamum dan solat subuh di atas matras dan samping tenda selesai, dingin sekali. Embun membasahi benda disekitar kami. Aku dan Vela menyiapkan kompor dan gas portable, greentea dan ovaltine untuk membuat hot chocolate. Sedangkan Tha mengumpulkan alumunium foil dan bahan yang akan dia gunakan untuk membuat api. Pikir kami mengulangi nikmatnya kehangatan api unggun semalam adalah ide yang bagus sebelum sunrise tiba, maka acara camping ceria kami hari itu akan terasa sempurna. Tak butuh waktu lama bagi Tha untuk menciptakan api, aku dan Vela bersorak ketika cahaya orange tersebut muncul dari kayu ditangan perkakas Tha. Masih kuingat sekali euforia kala itu, wajah-wajah segar bersih, tiga jenis minuman panas hampir selesai dihidangkan, tiga manusia pemburu perfecto dengan kaus kaki dan blanket corak The Nun siap pada posisi masing-masing mengelilingi api unggun.
.... Bad gyal no swalla nuttin’, word to the Dalai Lama
He know I’m s fashion killa, word to John Galliano .... (Jason D & Nicki M - Swalla)
Menggelitik kala mengingat kembali, kami tak menyangka akan merasa kehilangan disebuah tempat bernama gunung. Karena sebelumnya kami tak pernah punya pikiran buruk pada apapun dan pada siapapun. Kesempurnaan yang kami idamkan .. aaahh sedih ku menceritkannya L. Innalillahi Suluh kami HILANG.
.... So if you know .. the right way
Meomchujima tto geureoga .... (KTY - Voice)
Sungguh kami benar-benar kehilangan, kami tak bohong. Bahkan Tha dan Vela sangat sweet dan cute secara bersamaan, mereka “ngutruk” selama berjam-jam lamanya. Dan dosa kami yang kedua adalah dengan terus membahas kehilangan kayu bakar, menerka-nerka siapakah yang telah meminta kayu bakar namun lupa “bebeja”. Seketika bayangan malam ketika terlelap memenuhi pikiran kami, Tha yang merasa ada seseorang berjalan mengendap pelan disekitar tenda kami menjadi suudzon pertama untuk menebak pelaku pencurian kayu bakar berharga kami. Suudzon kedua datang dari Vela yang terbangun tengah malam ketika suara teriakan panik terdengar dari beberapa tenda sekitar 40 meter di hadapan kami, ternyata salah satu tenda disana terbakar saat dini hari, suudzon tersebut didasari oleh keyakinan bahwa saat malam api unggun hampir tak ada yang membuat api selain tenda kami. Aku tak memiliki suudzon lain, namun hanya menimbang kedua kemungkinan yang diutarakan Tha dan Vela.
.... They say it won’t be hard,
They can’t see the battles in my hearts .... (Julia Brennan – Inner Demons)
Minuman kami cepat dingin, dan tersambung dengan matahari muda yang mulai menyapa hangat kami para perantau ketinggian. Mendadak hampir seluruh penghuni tenda keluar untuk menyaksikan salah satu keajaiban alam dan mengabadikannya. Ekspresi tulus, haru dan rasa syukur hingga sulit berkata-kata menyatu menjadi kesatuan. Hal yang paling kubenci adalah saat itu, belum selesai dan puas ku menikmati magic dari suatu pagi, hatiku sudah rindu yang bahkan sialnya aku masih disana, masih berdiri ditempat yang akan kurindukan. Kau mengerti maksudku?
.... looking up at the sky, I think I see the start of a sunrise
And I will forgive myself, and start to let it go .... (Beth C – I Am Not Nothing)
Setelah puas dengan hasil jepretan kamera kami membuat sarapan, menghabiskan cemilan sebanyak yang kami bisa sehingga beban dalam carriel berkurang. Hangat mulai menjadi panas dan kami mulai packing untuk pulang. Banyak pasang mata tertangkap sedang memandang kami ketika packing carriel, mengumpulkan sampah, gotong royong membereskan tenda dan bahkan membantu mengangkat carriel secara bergantian. Suudzon selanjutnya adalah perasaan tak mau dikasihani muncul membuat kami dengan sengaja menciptakan banyak kekonyolan dan tawa yang tak ada hentinya demi mengusir rasa risih atas pandangan mereka dan mengkonfirmasi bahwa kami oke, kami perempuan dan baik-baik saja. Meskipun mungkin makna pandangan mereka bukan seperti yang kami pikirkan.
.... Girls like you run around with guys like me
‘til sundown, when I come through
I need a girl like you, yeah yeah .... (Hai Ha – Girls Like You)
Kami turun pada saat pendaki lain baru sarapan dan masih menikmati rebahan dihangatnya matahari pukul 09.00. Kami selalu seperti itu. Tak lupa pamit pada Pak Cahyu yang baik hati dan tidak “judes”, memberikan semua makanan yang tak sempat kami makan. Kebiasaan yang sulit diubah, camping semalam namun membekali diri dengan logistik untuk tiga malam. Percayalah kenistaan semua pecinta kuliner ada pada moto nya, “Hidup Untuk Makan, dan Makan untuk Hidup” kadang juga “Hidup adalah Udunan”.
.... The legends and the myths, The testaments they told
The moon and it’s eclipse ....(Aspen – Something Just Like This)
Pukul 10.00 pagi kami pamit undur diri. Selama perjalanan menuruni gunung Artapela kami ditemani deretan lagu dan musik yang kami sukai, membuat langkah kaki ini lebih panjang dari biasanya, tubuh ini melesat tak seperti biasanya, berlari meskipun tak ada niat untuk berlari. Tak ada keluh kesah, tak ada teriakan manja “Break”, tak selalu melihat jam tangan, banyak tersenyum seperti sudah gila. Tak ada kata menghemat tenaga, tak ada kata jaim, bertingkah seperti seorang samurai, spider girl. Maha memalukan. 11.30 siang kami sampai di basecamp. Satu setengah jam kami bisa turun, lalu mengapa ketika naik membutuhkan lima jam untuk sampai puncak, Wallahu a’lam.
.... I’d climb every mountain
And swim every ocean, just to be with you .... (Calum Scott – You Are The Reason)
Naik gunung dimomen Hari Kemerdekaan tidak harus selalu membawa bendera dan mengadakan upacara bendera lalu difoto dengan tangan menghormat pada bendera. Kami memaknai kemerdekaan negara kami ini dengan bersyukur  seikhlas-ikhlasnya, merealisasikan keinginan tanpa merepotkan orang lain, membiasakan untuk mandiri, berusaha membalas kebaikan orang lain, tidak meninggalkan kewajian pada sang pencipta, membuang sampah pada tempatnya, hemat air dan yang terpenting tidak mencuri kayu bakar orang lain, pray for hawu kami.
.... Two heart, one valve, pumpin’ the blood, we were the flood
We were the body and (Imagine Dragon – Birds)
Terimakasih Pak Cahyu, terimakasih api unggun, terimakasih bintang malan 18 Agustus 2019. Berani untuk lelah, berani untuk kotor dan berkeringat, berani untuk jauh dari rumah dan berani untuk terbatas. Maka yang ku dapatkan adalah teman yang saling menerima apa adanya, tidak mudah membenci sesuatu yang kurang indah, mampu bertahan ditempat yang asing tanpa merengek ingin pulang. Meskipun dengan segala keterbatasan yang ada, hati ini selalu berkata, ini hanya sementara. Tak apa untuk lapar dan haus, tak apa untuk kedinginan dan kurang nyenyak, tapi mata, hati dan pikiranku punya segalanya dan tak terbatas. Jalan untuk memuaskan rasa syukur, membuktikan bahwa apapun yang terjadi itulah yang terbaik untukku.
.... Now I like dollars, I like diamonds
I like stunting, I like shining .... (Cardy B – I like It)




Salam rindu dari kami Arth, Tha dan Vela J