**Yogyakarta, 5 Juni 2026** –
Keselamatan dalam aktivitas pendakian gunung menjadi salah satu isu yang semakin mendapatkan perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Meningkatnya minat masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap kegiatan pendakian gunung membawa dampak positif bagi pengembangan wisata alam dan gaya hidup aktif. Namun di sisi lain, peningkatan jumlah pendaki juga diikuti oleh berbagai tantangan, termasuk tingginya risiko kecelakaan yang disebabkan oleh kurangnya kesiapan fisik, minimnya pengetahuan mengenai manajemen risiko, serta rendahnya pemanfaatan teknologi dalam proses persiapan pendakian.
Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas dan keselamatan aktivitas pendakian gunung di Indonesia, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) GBDS Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bekerja sama dengan Asosiasi Operator Pendakian Gunung Indonesia (AOPGI) menyelenggarakan kegiatan bertajuk **“Sosialisasi dan Pengenalan Latihan Fisik Pendaki Gunung (Mountrain) sebagai Upaya Mengurangi Risiko Kecelakaan Pendakian Gunung.”** Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 5 Juni 2026, pukul 13.30–17.00 WIB di Aula Student Center Universitas Negeri Yogyakarta.
Kegiatan pengabdian ini dipimpin oleh **Prof. Dr. Panggung Sutapa, M.S.** sebagai ketua tim PKM GBDS UNY dan diikuti oleh **68 peserta** yang berasal dari berbagai organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di Daerah Istimewa Yogyakarta serta mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang memiliki ketertarikan terhadap aktivitas luar ruang dan olahraga petualangan.
Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang menunjukkan tingginya perhatian terhadap isu keselamatan pendakian dan pentingnya pengembangan kapasitas pendaki berbasis ilmu pengetahuan.
Sejak awal kegiatan, suasana berlangsung sangat interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti setiap sesi yang disampaikan oleh para narasumber. Banyak peserta mengungkapkan bahwa materi yang diberikan sangat relevan dengan kondisi yang mereka hadapi saat melakukan pendakian, terutama terkait persiapan fisik dan pengelolaan risiko di lapangan.
Dalam sambutan pembukaannya, Prof. Dr. Panggung Sutapa, M.S. menegaskan bahwa kegiatan pendakian gunung merupakan aktivitas yang membutuhkan kesiapan multidimensional, tidak hanya mengandalkan semangat petualangan semata. Menurutnya, berbagai kasus kecelakaan yang terjadi di gunung sering kali disebabkan oleh kombinasi faktor manusia, lingkungan, dan kurangnya persiapan yang memadai.
Beliau menjelaskan bahwa banyak pendaki masih beranggapan bahwa pengalaman atau keberanian sudah cukup untuk menghadapi tantangan di gunung. Padahal, kemampuan fisik yang baik, pemahaman terhadap kondisi medan, serta kesiapan mental merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan dan keselamatan selama pendakian.
“Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, kami berharap lahir budaya pendakian yang lebih aman, terukur, dan berbasis ilmu pengetahuan sehingga risiko kecelakaan dapat diminimalkan. Pendaki perlu memahami bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab pengelola jalur pendakian, tetapi juga tanggung jawab setiap individu yang melakukan aktivitas tersebut,” ungkap Prof. Panggung.
Pada sesi utama pertama, peserta mendapatkan materi dari **Dr. Rizki Mulyawan, M.Or.**, yang membahas secara komprehensif mengenai analisis kebutuhan fisik dalam aktivitas pendakian gunung.
Dalam paparannya, Dr. Rizki menjelaskan bahwa karakteristik pendakian gunung sangat berbeda dengan aktivitas olahraga pada umumnya karena melibatkan durasi aktivitas yang panjang, perubahan elevasi yang signifikan, kondisi cuaca yang tidak menentu, serta beban bawaan yang cukup berat.
Ia menekankan bahwa pendaki harus memiliki kemampuan daya tahan aerobik yang baik agar mampu mempertahankan performa fisik selama perjalanan yang panjang. Selain itu, kekuatan otot tungkai, kekuatan inti tubuh (core stability), keseimbangan, fleksibilitas, dan koordinasi gerak juga menjadi komponen penting yang harus dilatih secara sistematis.
Menurut Dr. Rizki, salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh pendaki pemula adalah melakukan latihan secara sporadis menjelang keberangkatan tanpa perencanaan yang jelas. Padahal, peningkatan kapasitas fisik memerlukan proses adaptasi yang berlangsung secara bertahap dan terukur.
Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai bentuk latihan yang dapat dilakukan sebelum pendakian, seperti latihan kardiorespirasi, circuit training, latihan kekuatan menggunakan berat badan sendiri, latihan keseimbangan, serta simulasi aktivitas mendaki dengan beban. Seluruh program latihan tersebut dirancang berdasarkan prinsip latihan olahraga modern yang memperhatikan aspek spesifisitas, progresivitas, dan individualisasi.
Selain membahas latihan fisik, Dr. Rizki juga memberikan pemaparan mengenai strategi pemenuhan kebutuhan nutrisi dan suplementasi selama proses pendakian. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan energi seorang pendaki meningkat secara signifikan ketika berada di medan pegunungan, terutama pada jalur dengan elevasi tinggi dan suhu lingkungan yang rendah.
Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya asupan karbohidrat sebagai sumber energi utama, protein untuk membantu pemulihan otot, serta cairan dan elektrolit guna mencegah dehidrasi. Ia juga mengingatkan bahwa banyak kasus kelelahan ekstrem yang terjadi di gunung sebenarnya dapat dicegah melalui manajemen nutrisi dan hidrasi yang baik.
“Persiapan fisik yang baik harus didukung oleh strategi nutrisi yang tepat. Tubuh membutuhkan energi yang cukup untuk beradaptasi dengan kondisi medan yang berat. Ketika aspek ini diabaikan, risiko kelelahan, cedera, hipotermia, bahkan kondisi darurat akan meningkat,” jelas Dr. Rizki.
Sesi berikutnya menghadirkan **Dr. Ryan Abu Bakar, S.Si., M.Pd.**, yang memperkenalkan inovasi digital bernama **Mountrain Hub**. Inovasi ini dikembangkan sebagai platform berbasis website yang bertujuan membantu pendaki dalam mempersiapkan diri secara lebih sistematis melalui pendekatan teknologi digital.
Dalam presentasinya, Dr. Ryan menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi memberikan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembinaan dan edukasi pendaki gunung. Melalui Mountrain Hub, pendaki dapat memperoleh akses terhadap berbagai program latihan fisik yang dirancang sesuai dengan tingkat kemampuan dan tujuan pendakian masing-masing.
Platform ini memungkinkan pengguna untuk memilih jenis program latihan berdasarkan tingkat kesulitan jalur yang akan ditempuh, durasi pendakian, serta kondisi fisik awal yang dimiliki. Dengan demikian, proses persiapan menjadi lebih personal dan berbasis data.
Selain menyediakan program latihan, Mountrain Hub juga dilengkapi dengan berbagai fitur edukatif yang memuat informasi mengenai keselamatan pendakian, manajemen risiko, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, serta rekomendasi aktivitas fisik yang dapat dilakukan secara mandiri.
Salah satu fitur yang mendapatkan perhatian besar dari peserta adalah layanan **permohonan Surat Keterangan Kondisi Fisik** yang terintegrasi dalam platform. Fitur ini dirancang untuk membantu pendaki memperoleh dokumentasi kondisi fisik sebagai bagian dari upaya membangun budaya pendakian yang lebih aman dan bertanggung jawab.
Menurut Dr. Ryan, keberadaan fitur tersebut bukan dimaksudkan sebagai pembatas aktivitas pendakian, melainkan sebagai sarana edukasi agar para pendaki lebih memahami kondisi fisiknya sebelum melakukan perjalanan ke alam bebas.
“Mountrain Hub kami kembangkan sebagai ekosistem digital yang menghubungkan pendaki, ahli olahraga, tenaga kesehatan, komunitas, dan organisasi pendakian. Harapannya, setiap pendaki dapat mempersiapkan diri secara lebih baik sehingga risiko kecelakaan yang disebabkan oleh faktor manusia dapat ditekan,” jelasnya.
Sesi diskusi yang berlangsung setelah pemaparan narasumber menjadi salah satu bagian yang paling menarik dalam kegiatan ini. Para peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan mengenai latihan fisik, strategi pemulihan, penggunaan teknologi dalam monitoring kondisi fisik, hingga prosedur keselamatan saat menghadapi kondisi cuaca ekstrem di gunung.
Kolaborasi antara PKM GBDS UNY dan AOPGI dalam kegiatan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi dalam membangun budaya keselamatan berbasis sains. Melalui kerja sama tersebut, ilmu pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan akademik dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya komunitas pendaki gunung.
Di akhir kegiatan, para peserta menyampaikan apresiasi terhadap materi yang diberikan dan berharap program serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Mereka menilai bahwa pendekatan yang mengintegrasikan ilmu keolahragaan, teknologi digital, dan edukasi keselamatan merupakan langkah inovatif yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendakian modern.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis mengenai pentingnya latihan fisik sebelum pendakian, tetapi juga mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesiapan dan keselamatan dalam aktivitas luar ruang. Ke depan, program **Mountrain** diharapkan mampu menjadi model pembinaan pendaki gunung berbasis teknologi yang dapat diterapkan secara luas di berbagai daerah di Indonesia.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya persiapan fisik, edukasi keselamatan, dan pemanfaatan teknologi digital, diharapkan angka kecelakaan pendakian gunung dapat terus ditekan. Pada akhirnya, pendakian gunung tidak hanya menjadi aktivitas rekreasi dan petualangan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang aman, sehat, dan bertanggung jawab bagi seluruh masyarakat Indonesia.